Hidup itu PILIHAN

Baik atau buruk, diri sendiri yang menentukan, orang lain yang menilai, kita yang berbuat.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Wednesday, 14 May 2014

Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi



Definisi Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan merupakan tindakan yang berkaitan dengan fungsi manajemen. Tindakan ini dilakukan oleh pimpinan tertinggi dalam organisasi. Pengambilan keputusan juga harus disertai pemikiran hebat agar keputusan yang diambil dapat terus mempertahankan kelangsungan organisasinya.
Menurut  Herbert A. Simon, ahli teori keputusan dan organisasi mengonseptualisasikan tiga tahap utama dalam proses pengambilan keputusan:
1.       Aktivitas inteligensi. Berasal dari pengertian militer "intelligence," Simon mendeskripsikan tahap awal ini sebagai penelusuran kondisi lingkungan yang memerlukan pengambilan keputusan.
2.       Aktivitas desain. Selama tahap kedua, mungkin terjadi tindakan penemuan, pengembangan, dan analisis masalah.
3.       Aktivitas memilih. Tahap ketiga dan terakhir ini merupakan pilihan sebenarnya-memilih tindakan tertentu dari yang tersedia.
Namun, terdapat definisi-definisi lain tentang pengambilan keputusan, sebagai berikut :
·         Menurut Shull dalam dalam Ety Rochaety (2008:151) mengatakan bahwa pengambilan keputusan adalah proses   kesadaran manusia terhadap fenomena individual maupun sosial berdasarkan kejadian faktual dan nilai pemikiran yang mencakup aktivitas perilaku pemilihan satu atau beberapa alternatif sebagai jalan keluar untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
·         Menurut George R. Terry dalam Ety Rochaety (2008: 151), pengambilan keputusan adaah pemilihan alternatif perilaku tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada.
·         Menurut Lipman (1985:81) pengambilan keputusan adalah sebuah proses untuk memecahkan masalah melalui sebuah sistem yang dirancang melalui pilihan dari beberapa alternatif jawaban yang sudah disusun berdasarkan sistem keluaran (output).

Jenis-jenis Pengambilan Keputusan

·         Gaya Direktif
Pembuat keputusan gaya direktif mempunyai toleransi rendah pada ambiguitas, dan berorienytasi pada tugas dan masalah teknis. Pembuat keputusan ini cenderung lebih efisien, logis, pragmatis dan sistematis dalam memecahkan masalah. Pembuat keputusan direktif juga berfokus pada fakta dan menyelesaikan segala sesuatu dengan cepat. Mereka berorientasi pada tindakan, cenderung mempunyai fokus jangka pendek, suka menggunakan kekuasaan, ingin mengontrol, dan secan menampilkan gaya kepemimpinan otokratis.
·         Gaya Analitik
Pembuat keputusan gaya analitik mempunyai toleransi yang tinggi untuk ambiguitas dan tugas yang  kuat serta orientasi teknis. Jenis ini suka menganalisis situasi; pada kenyataannya, mereka cenderung terlalu menganalisis sesuatu. Mereka mengevaluasi lebih banyak informasi dan alternatif darpada pembuat keputusan direktif. Mereka juga memerlukan waktu lama untuk mengambil kepuputusan mereka merespons situasi baru atau tidak menentu dengan baik. Mereka juga cenderung mempunyai gaya kepemimpinan otokratis.
·         Gaya Konseptual
Pembuat keputusan gaya konseptual mempunyai toleransi tinggi untuk ambiguitas, orang yang kuat dan peduli pada lingkungan sosial. Mereka berpandangan luas dalam memecahkan masalah dan suka mempertimbangkan banyak pilihan dan kemungkinan masa mendatang. Pembuat keputusan ini membahas sesuatu dengan orang sebanyak mungkin untuk mendapat sejumlah informasi dan kemudian mengandalkan intuisi dalam mengambil keputusan. Pembuat keputusan konseptual juga berani mengambil risiko dan cenderung bagus dalam menemukan solusi yang kreatif atas masalah. Akan tetapi, pada saat bersamaan, mereka dapat membantu mengembangkan pendekatan idealistis dan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan.
·         Gaya Perilaku
Pembuat keputusan gaya perilaku ditandai dengan toleransi ambiguitas yang rendah, orang yang kuat dan peduli lingkungan sosial. Pembuat keputusan cenderung bekerja dengan baik dengan orang lain dan menyukai situasi keterbukaan dalam pertukaran pendapat. Mereka cenderung menerima saran, sportif dan bersahabat, dan menyukai informasi verbal daripada tulisan. Mereka cenderung menghindari konflik dan sepenuhnya peduli dengan kebahagiaan orang lain. Akibatnya, pembuat keputusan mempunyai kesulitan untuk berkata 'tidak' kepada orang lain, dan mereka tidak membuat keputusan yang tegas, terutama saat hasil keputusan akan membuat orang sedih.

Faktor-faktor Pengambilan Keputusan

a)      faktor Fisik
b)      Emosional
c)      Rasional
d)      Praktikal
e)      Interpersonal dan Struktural

Menurut Terry (1989) faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan sebagai berikut: 
  • Hal-hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan;
  • Setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi;
  • Setiap keputusan janganlah berorientasi pada kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain;
  • Jarang sekali ada 1 pilihan yang memuaskan;
  • Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus diubah menjadi tindakan fisik;
  • Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang  cukup lama;
  • Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang baik;
  • Setiap keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat diketahui apakah keputusan yang diambil itu betul; 
  • Setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya.

Implikasi Manajerial

Proses Pengambilan Keputusan dalam partisipatif dalam organisasi sekolah Manajerial yang baik. Rendahnya kemapuan kepala sekolah akan berpengaruh terhadap perolehan dukungan dari masyarakat khususnya dukungan dalam mengambilan keputusan yang dikeluarkan sekolah terkait dengan kebijakan dan rencana program pengembangan sekolah.

Daftar Pustaka



·         Syafaruddin & Anzizhan, 2004, Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan, Jakarta, Grasindo.
·         Nachrowi D & Hardius Usman, 2004, Teknik Pengambilan Keputusan, Jakarta, Grasindo.

 



Wednesday, 16 April 2014

Kepemimpinan

Arti Kepemimpinan
                Kepemimpinan adalah proses, kepemimpinan melibatkan pengaruh, kepemimpinan terjadi di dalam kelompok dan kepemimpinan juga melibatka tujuan yang sama. Jadi, definisi kepemimpinan adalah proses dimana individu memengaruhi sekelompok individu untuk mencapai tujuan bersama.
                Namun ada definisi-definisi lain tentang kepemimpinan, yaitu :
1.       Kepemimpinan adalah perilaku individu yang mengarahkan aktivitas kelompok untuk mencapai sasaran bersama. (Hemphill & Coons, 1957, h. 7).
2.       Kepemimpinan adalah pengaruh tambahan yang melebihi dan berada di atas kebutuhan mekanis dalam mengarahkan organisasi secara rutin. (D. Katz & Kahn, 1978, h. 528).
3.       Kepemimpinan dilaksanakan ketika seorang memobilisasi sumber daya institusional, politis, psikologis dan sumber-sumber lainnya untuk membangkitkan, melibatkan dan memenuhi motivasi pengikutnya. (Burns, 1978, h. 18).
4.       Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas kelompok yang terorganisasi untuk mencapai sasaran. (Rauch & Behling, 1984, h. 46).
5.       Kepemimpinan adalah proses memberikan tujuan (arahan yang berarti) ke usaha kolektif, yang menyebabkan adanya usaha yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan. (Jacobs & Jaques, 1990, h. 281).
6.       Kepemimpinan adalah kemampuan untuk bertindak diluar budaya untuk memulai proes perubahan evolusi agar menjadi lebih adaptif. (E. H. Schein, 1992, h. 2).
7.       Kepemimpinan adalah proses membuat orang memahami manfaat bekerja bersama orang lain, sehingga mereka paham dan mau melakukannya. (Drath & Palus, 1994, h. 4).
Sifat kepemimpinan juga dibutuhkan pondasi-pondasi agar kuat dan konsisten untuk menjalankan visi dan misi yang telah direncanakan. Ada lima pondasi kepemimpinan, antara lain :
·         Niat
·         Motivasi sejati
·         3 elemen penggerak : energi jasmaniah, energi emosional, energi spiritual
·         Berpilir positif
·         Berwawasan luas

Tipologi Kepemimpinan

Kepemimpinan juga mempunyai tipe-tipenya seperti berikut, yaitu :
1.       Otokratis
Ciri-cirinya :
§  Menganggap organisasi sebagai milik pribadi.
§  Mengindentifikasi tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
§  Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata.
§  Tidak mau menerima kritik.
2.       Militeris
Ciri-cirinya :
§  Dalam menggerakkan bawahannya lebih sering mempergunakan sistem perintah.
§  Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung pada pangkat dan jabatannya.
§  Senang pada formalitas yang tinggi dan kaku dari bawahan.
§  Sukar menerima kritik dari bawahannya.
3.       Paternalistis
Ciri-cirinya :
§  Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa.
§  Bersikap terlalu melindungi.
§  Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk ikut mengambil keputusan.
§  Sering bersikap maha tahu.
4.       Kharismatis
Tipe ini adalah tipe kepemimpinan yang dipandang sulit untuk dianalisis, karena literature yang ada tentang kepemimpinan kharismatik tidak memberikan petunjuk yang cukup. Artinya, tidak banyak hal yang dapat disimak dari literature yang ada tentang kepemimpinan kharismatik ini.
5.       Demokratis
Ciri-cirinya :
§  Senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritik dari bawahannya.
§  Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dalam usaha untuk mencapai tujuan.
§  Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripada dia sendiri.
§  Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai seorang pemimpin.
6.       Laissez Faire
Tipe kepemimpinan ini seperti halnya tipe kepemimpina kharismatik, literature tentang kepemimpinan juga tidak banyak membahas tipe kepemimpinan ini.seorang pemimpin yang laissez faire berpandangan, bahwa pada umumnya organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi.

Implikasi Manajerial Kepemimpinan
Di setiap cabang-cabang organisasi terdapat manajer yang mengatur kelompoknya. Jika di dalam organisasi tersebut manajer yang kepemimpinannya cerdas, memotivasi anggota, dekat dengan anggota, bertanggung jawab maka organisasi yang dipimpinya akan berjalan lancar dan mencapai tujuan dengan cepat. Sedangkan yang tidak memiliki sifat tersebut, organisasi yang dipimpin oleh manajer tersebut tidak akan mencapai tujuan organisasi tersebut.

Daftar Pustaka
Peter G. Northouse,” Kepemimpinan”, Edisi Keenam. Gramedia.
Gary Yuki, “Kepemimpinan Dalam Organisasi” Gramedia. 2008
dr. H. Syamsul Arifin, M.Pd, “Leadership Ilmu dan Seni Kepemimpinan”,Gramedia. 2012.  
Farendy Arlius, “5 Fondasi Rahasia Pemimpin Unggul”, Gramedia. 2014.

Tuesday, 18 March 2014

Peran Komunikasi Dalam Organisasi







Arti dan Pentingnya Komunikasi
Manusia hidup di muka bumi adalah sebagai makhluk sosial. Mengapa disebut makhluk sosial ? Karena kehidupan manusia tidak dapat dijalani tanpa adanya keterkaitan dengan manusia lainnya. Tidak akan ada manusia yang dapat hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain. Hubungan antar manusia satu dengan lainnya membutuhkan komunikasi agar dapat menjaga kesejahteraan dan ketentraman satu sama lain. Jadi, dapat disimpulkan komunikasi adalah cara seseorang atau sekelompok manusia untuk menjaga keharmonisan bersama antar satu sama lain.

Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam (Rogers & D. Lawrence Kincaid, 1981) [6].

Menurut Katz dan Khan menegaskan bahwa komunikasi adalah suatu proses sosial yang mempunyai relevansi terluas di dalam memfungsikan setiap Kelompok, organisasi atau masyarakat [7]. 
Begitu pun komunikasi dalam yang harus dijaga dalam berhubungan organisasi. Pembahasan komunikasi organisasi antara lain menyangkut struktur dan fungsi organisasi, hubungan antarmanusia, komunikasi dan proses pengorganisasian serta budaya organisasi. Komunikasi juga harus mempunyai batasan agar tidak dapat terjadinya salah paham antar anggota organisasi. Karena kesalah pahaman komunikasi mengakibatkan pecahnya dan runtuhnya suatu organisasi.

Jenis dan Proses Komunikasi
Komunikasi atau communication berasal dari kata latin communis yang berarti “sama”, communico, communication, atau communicare yang berbarti “membuat sama” (to make common). Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama (Mulyana, 2009: 46). Menurut Shannon dan Weaver (Sulistyo-Basuki, 1996: 18) komponen komunikasi terdiri atas sumber (source), pemancar (transmitter), saluran (channel), penerima (receiver) dan tujuan (destination). Model komunikasi tersebut dikenal sebagai model transmisi yang banyak diadopsi dalam bidang bidang telekomunikasi. Motley dalam Littlejohn (2002: 7) berpendapat bahwa komunikasi adalah transmisi informasi, baik bersifat verbal maupun non verbal. Berbagai perspektif definisi proses komunikasi inilah yang akan mengantarkan pada pendekatan komunikasi ilmiah yang lebih banyak terjadi dalam dimensi riset, inquiry, dan invensi dari para ilmuwan (researcher).

Komunikasi terbagi menjadi dua jenis, yaitu verbal dan non verbal. Komunikasi verbal ialah komunikasi dengan ucapan kata-kata, seperti halnya berbicara. Setiap kata yang akan diucapkan harus jelas setiap katanya yang diucapkan, disamping itu intonasi atau nada berbicaranya harus jelas dan sesuai dengan apa yang diucapkan agar komunikasi tetap lancar dan terjaga. Sedangkan komunikasi non verbal merupakan komunikasi seperti dengan bahasa tubuh (gesture). Komunikasi non verbal ini bukan hanya sekedar tubuh saja yang berbicara, termasuk juga ialah kontak mata, sentuhan dan ekspresi wajah.

Komunikasi Efektif
Komunikasi efektif adalah komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap pada orang yang terlibat dalam komunikasi, serta saling bertukar informasi, ide, kepercayaan, perasaan dan sikap antara dua orang atau kelompok yang hasilnya sesuai dengan harapan. Tujuan adanya komunikasi efektif ialah member kemudahan untuk memahami apa isi pesan yang diinformasikan . Dengan perpaduan bentuk verbal dan non verbal komunikasi menjadi efektif, praktis, padat dan jelas, serta dengan mudah dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan.

Implikasi Manajerial
Implikasi manajerial adalah bagaimana meningkatkan produktifitas dengan cara meningkatkan kapasitas, kualitas, efisiensi dan efektivitas dari sumber daya yang ada. Dalam sebuah organisasi, produktifitas sangat diutamakan sebagai ide-ide baru yang akan dikembangkan demi berlangsungnya kehidupan organisasi dengan sumber daya yang ada dan dibantu dengan komunikasi yang efektif.







DAFTAR PUSTAKA

  1. Yessy Oktavyanthi, Peranan Komunikasi Dalam Organisasi. http://yessysi.blogspot.com/2013/04/peranan-komunikasi-dalam-organisasi_4081.html , diakses18 Maret 2014, Pukul : 20:04.
  2. Anne Ahira, Jenis-jenis Komunikasi. http://www.anneahira.com/jenis-komunikasi.htm , diakses18 Maret 2014, Pukul : 20:10.\
  3. Amin Taufiq Kurniawan, Konsep Komunikasi Ilmiah Dalam Pemanfaatan Informasi Di Perpustakaan Dan Komunikasi.http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=9&ved=0CFkQFjAI&url=http%3A%2F%2Fjurnal-kommas.com%2Fdocs%2Fjurnal%2520pak%2520Amin%2520_Undip_.pdf&ei=UEMoU5m7B4uWrAej8YCADA&usg=AFQjCNEP7PLOG6PTggowJiuRubUa5iaRWA&sig2=DOh0vOTQrkwxyfq5l5HmcA . Diakses 18 Maret 2014, Pukul : 20:00. 
  4. ChaLouiss, Pengertian, Tujuan, Bentuk Dan Unsur Komunikasi Efektif. http://chalouiss.blogspot.com/2011/12/pengertian-tujuan-bentuk-dan-unsur.html . Diakses18 Maret 2014, Pukul : 21:40. 
  5. Heriyanto, Implikasi Manajerial. http://herisllubers.blogspot.com/2013/05/implikasi-manajerial-implikasi.html . Diakses18 Maret 2014, Pukul : 22:18.
  6.  Prof. Dr. Hafied Cangara, M. Sc., Pengantar Ilmu Komunikasi. 1998. Hal. 20.
  7. Daniel Katz dan Robert L. Kahn, The Social Psychology of Organization, New York, Wiley, 1996.